Pemberitaan yang lagi anget kali ini, membuatku banyak merenung "nggak ada tauladan terbaik untuk diri sendiri, kecuali kedewasaan jiwa yang kita miliki." Aseek.
Aku jadi kepengen curcol ni…
Tau nggak, kalau orang itu lebih suka sama kata-kata manis yang palsu, ketimbang kata-kata jujur yang pait.
Survey iseng ku membuktikan, 89% orang emang seneng dipuji-puji, walau pujian itu fake.
Contohnya ni ya, aku suka memuji cewek, “Eh kamu cantik banget deh.”, dia pun tersipu, terus aku ditampar karena boong. Karena aku salah, aku bilang ke dia, “Dasar cewek jelek!“, malahan aku hampir dibunuh.
Sayangnya, kebanyakan orang malah menjauhi orang-orang yang jujur karena sulit menerima kenyataan. Makanya ada istilah orang-orang yang lari dari kenyataan, karena nggak bisa jujur sama dirinya sendiri.
Aku gak mau membela, juga nggak mau menyakiti. Tapi nasihat baik akan selalu baik, tinggal gimana kita: masih mau terima dengan orang yang menyampaikan nasihat atau nggak.
Aku gak tau lagi nulis apa yang mungkin nggak ada maknanya, tapi aku nulis apa yang lagi aku rasa.
Jadi keinget sama dua temen ku; yang satu anak agamis, yang satu anak nongkrong. Anak agamis komitmen nggak mau pacaran – menurutnya dilarang agama. Anak nongkrong punya gaya hidup bebas & selengean.
Anak agamis menasihati anak nongkrong supaya lebih dekat ke Tuhannya. Dan tentunya nggak mudah dia terima.
Belakangan si anak agamis ketauan jalan sama seseorang, dia backstreet. Anak nongkrong pun teriak begini, “Yaelah, katanya kagak mau pacaran, masih mending gue NGGAK MUNA!”.
Anak agamis merasa lebih ngerti agama, anak nongkrong juga ngerasa nggak muna, dua-duanya bener. Anak mesjid jadinya pacaran, anak nongkrong hidupnya selengean, dua-duanya salah.
Hidup ini relatif. Jika dua-duanya salah, maka dua-duanya bener. Sorry kalo postingan ini kosong, karena kosong adalah isi, dan isi adalah kosong. cincai cincai sancai sancai... Eakakaka
...Semoga gak bermanfaat...


comment 0 komentar
more_vert